Membuka Pintu (Ubud, 1 Januari 2020)

Matahari belum sepenuhnya mengambang. Seekor anjing menarik-narik tulang ayam dari sisa nasi bungkus di tempat sampah depan rumah Bli Ketut. Matahari mulai terlihat bulat keemasan. Seekor perkutut terseok-seok menarik sebatang ranting kering dari kumpulan ranting yang tertumpuk di kaki pohon jambu. Bangau-bangau sibuk memanen anak katak. Berisik puluhan anak ayam menciap-ciap menceker-ceker tanah bersama induknya. Beberapa ekor pipit mematuk-matuk nasi di tumpukan canang di pertigaan gang. Seorang kakek membuka toko kecilnya dan seorang anak lelaki baru pulang belanja dari pasar. Ayah sedang meracik bumbu babi guling sejak tengah malam tadi. Pagi ini harus sudah siap dan matang. Ibu membetulkan pintu … Continue reading Membuka Pintu (Ubud, 1 Januari 2020)

Gatot, Petani Cilantro

Hai, Semua!  Lama tidak menulis apa-apa. Sibuk dengan tugas baru memimpin sebuah sekolah dasar di Papua, saya jadi sulit menemukan waktu menulis untuk blog Tulis Angin. Baru sekarang ada waktu menulis sedikit. Kalau membaca tulisan saya sebelumnya tentang Cilantro, pasti ingin tahu hasilnya. Nah, ini hasilnya: GAGAL TOTAL alias Gatot. Hahahaha…  Baru saja saya menanam bibit Cilantro waktu itu, ternyata di sebuah toko swalayan di Malang, Cilantro dijual bebas dan murah. Makin hancurlah motivasi menanam Cilantro. Hasil akhirnya: di sinilah saya… Seorang petani Cilantro abal-abal yang gagal.  Sekian. Terima kasih!  Continue reading Gatot, Petani Cilantro