Membuka Pintu (Ubud, 1 Januari 2020)

Matahari belum sepenuhnya mengambang. Seekor anjing menarik-narik tulang ayam dari sisa nasi bungkus di tempat sampah depan rumah Bli Ketut. Matahari mulai terlihat bulat keemasan. Seekor perkutut terseok-seok menarik sebatang ranting kering dari kumpulan ranting yang tertumpuk di kaki pohon jambu. Bangau-bangau sibuk memanen anak katak. Berisik puluhan anak ayam menciap-ciap menceker-ceker tanah bersama induknya. Beberapa ekor pipit mematuk-matuk nasi di tumpukan canang di pertigaan gang. Seorang kakek membuka toko kecilnya dan seorang anak lelaki baru pulang belanja dari pasar. Ayah sedang meracik bumbu babi guling sejak tengah malam tadi. Pagi ini harus sudah siap dan matang. Ibu membetulkan pintu … Continue reading Membuka Pintu (Ubud, 1 Januari 2020)

di sini

Untuk David Spinelli, Leslie Spinelli, dan Baby G.   di sini semuanya kembali derita cerita di sini duka berbunga cinta, harapan, dan cita di sini   hanyalah hati yang mampu terangi jiwa-jiwa yang letih hanyalah cinta yang mampu obati jiwa-jiwa terluka   di sini semuanya kembali derita cerita derita cerita derita cerita cerita Pak Dave dan Ibu Leslie, kami kehilangan kalian yang sangat berharga untuk anak-anak di sini. Kalian permata yang tetap ada di hati kami. Selamat menempuh petualangan baru! We’re gonna miss you! Continue reading di sini

Gatot, Petani Cilantro

Hai, Semua!  Lama tidak menulis apa-apa. Sibuk dengan tugas baru memimpin sebuah sekolah dasar di Papua, saya jadi sulit menemukan waktu menulis untuk blog Tulis Angin. Baru sekarang ada waktu menulis sedikit. Kalau membaca tulisan saya sebelumnya tentang Cilantro, pasti ingin tahu hasilnya. Nah, ini hasilnya: GAGAL TOTAL alias Gatot. Hahahaha…  Baru saja saya menanam bibit Cilantro waktu itu, ternyata di sebuah toko swalayan di Malang, Cilantro dijual bebas dan murah. Makin hancurlah motivasi menanam Cilantro. Hasil akhirnya: di sinilah saya… Seorang petani Cilantro abal-abal yang gagal.  Sekian. Terima kasih!  Continue reading Gatot, Petani Cilantro

Cilantro atau Ketumbar

Pengalaman menikmati masakan Meksiko dan Vietnam beberapa waktu ketika tinggal di luar negara sendiri membuat saya sering rindu cita rasanya. Salah satu aroma yang membuat saya ketagihan adalah Daun Ketumbar atau Cilantro. Daun ini ada dalam burrito di masakan Meksiko dan berbagai kuah mie di masakan Vietnam. Rasanya menyegarkan. Meskipun begitu, banyak juga orang yang tidak menyukainya. Biasanya, para penggemar dan penentangnya memiliki fanatisme tinggi terhadap pendapat mereka sendiri.  Saya mencoba menanamnya karena di Indonesia Daun Ketumbar ini jarang dibudidayakan sehingga sulit didapati. Kalaupun ada, Daun Cilantro di supermarket dijual dengan harga tinggi.  Posting-an saya kali ini akan menjadi awal … Continue reading Cilantro atau Ketumbar