“Sigit”

Dalam sebuah rapat guru di sebuah sekolah dasar swasta di Papua, para guru sedang membicarakan tentang buku-buku pelajaran yang menurut mereka tidak sesuai dengan kondisi murid-muridnya.

“Buku ini terlalu sulit diterima anak-anak di sini, Pak. Isinya terlalu asing buat mereka. Banyak anak kita yang bingung lantaran contoh-contoh kalimatnya menggunakan kata-kata yang asing untuk mereka. Misalnya, kereta api, sedan, lembu, kelinci, dan benda-benda yang tidak ada di sekitar kita,” jelas Laila, guru kelas 3, kepada Kepala Sekolah.

“Ah, tahu sendiri kan? Itu pasti karena bukunya pilihan Pak “itu”. Bisanya hanya pesan buku saja. Isinya tidak diperiksa dulu. Mentang-mentang dia yang berwenang untuk membeli buku dan karena ini sekolah swasta, lalu dia bisa membeli buku seenaknya? Eh, itu juga kan vendor bukunya keponakan dia yang di Jakarta. Jadi, asal keponakannya mengajukan buku apa saja, pasti dibeli. Jangan asal dong kalau belanja buku! Sesuaikan dengan kebutuhan!” kata Hefrida, guru kelas 2, dengan lantang.

Suasana rapat mulai panas. Terlihat jelas bahwa ada gesekan-gesekan antara guru yang satu dengan guru yang lain, dan antara guru dengan petugas adminnya.

“Jangan begitu, Bu. Pak Indra memesan buku atas persetujuan saya. Bukan asal-asalan saja kok,” jawab Herman, Kepala Sekolah.

“Ah, kalau begitu, coba biarkan kami yang beli sendiri. Beri saja kami anggarannya. Nanti kami yang beli. Gimana, Bapak dan Ibu? Setuju?” usul Laila sambil berkedip-kedip ke arah Hefrida.

“Begini ya, Bu Laila dan Bu Hefrida, saya memang sedang memikirkan hal yang sama. Kita kan memang mendapatkan jatah dana Bantuan Operasional Sekolah (B.O.S.) dari pemerintah. Yaaaa… Karena kita memiliki hubungan baik dengan salah satu petugas di Dinas Pendidikan dan Pengajaran kabupaten ini, maka sekolah kita bisa ikut mendapatkan dana B.O.S. meskipun termasuk dalam sekolah swasta,” kata Herman berusaha mengambil sikap berpihak kepada Laila dan Hefrida.

Herman dikenal sebagai Kepala Sekolah yang kurang cakap memimpin. Dia mudah terombang-ambing pendapat orang lain. Seringnya, dia mengikuti “arah angin” yang kuat saja.

Saat itu, semua guru sudah mencium adanya kucuran dana B.O.S. ke sekolah mereka. Lalu dengan skenario masing-masing, mereka ingin mengusulkan berbagai macam proyek kepada Kepala Sekolah agar mereka bisa mendapatkan “cipratan” sedikit dananya. Hitung-hitung, untuk tabungan biaya rekreasi.

Dana B.O.S. memang selayaknya untuk siswa. Tetapi, jika sekolah membelikan buku yang nanti juga dipakai siswa, berarti tidak ada masalah, ‘kan? Itu ‘kan juga untuk siswa. Nah, dari situlah kebocoran penggunaan dana sering terjadi. Banyak mark up harga untuk semua pembelian dengan dana itu.

“Baik, Pak. Kami akan belanja sendiri bukunya,” kata Laila.

Entah bagaimana, rapat ditutup dengan keputusan bahwa semua guru boleh membeli buku pelajaran sesuai pilihannya untuk dibagikan kepada murid mereka.

Sore itu, Laila, Hefrida, dan guru-guru lainnya sibuk menelepon saudara, teman, atau penjual-penjual buku di luar Papua untuk berbelanja buku pelajaran. Hari demi hari, akhirnya buku-buku pelajaran pesanan mereka berdatangan. Dengan berbagai cara, kwitansi dan invoice diatur sedemikian rupa agar mereka mendapatkan “cipratan” dana alias laba. Anggaplah itu jasa pemesanan buku dan biaya komunikasi lewat telepon. Begitu pikir mereka.

Buku pelajaran yang dipesan oleh Laila juga sudah datang. Sebelumnya, Laila sudah membaca-baca buku pelajaran yang dia pesan itu. Di buku pelajaran Bahasa Indonesia itu, ada kata-kata seperti bus, transportasi, uang, celana, dan banyak kosa kata lain yang menurut dia tidak akan terasa asing untuk muridnya. Kalau sampai ada, bisa-bisa Laila dan teman-temannya merasa malu.

Suatu pagi di kelas Laila, dia sedang membacakan sebuah soal dari buku pelajaran pesanannya sendiri dari sebuah vendor di Semarang, Jawa Tengah.

“Sigit bangun pagi-pagi sekali lalu mandi. Setelah mandi, dia memakai baju putih dan celana merah. Pukul 06:30 W.I.B., Sigit berangkat ke sekolah. Alat transportasi umum yang biasa Sigit gunakan adalah bus. Kalau Sigit menggunakan bus, alat transportasi apa yang biasa kamu gunakan untuk berangkat ke sekolah?” baca Laila untuk muridnya.

Murid-murid Laila terdiam. Mereka sedang berpikir untuk menjawab pertanyaannya. Dengan logat Papua, tiba-tiba Urbanus, muridnya yang berasal dari desa di pegunungan tengah Papua, bertanya, “Bu Laila, Emmh… “sigit” itu barang apakah?”

 

Selesai.

Advertisements

2 thoughts on ““Sigit”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s