Pekerjaan Rumah Billy (2/2)

Guru kesenian di sekolah Billy terkenal sangat galak. Guru itu tidak mau tahu apapun tentang muridnya. Dia suka sekali memukul, menjewer, mencubit, menghina, dan melukai perasaan murid dengan kata-kata yang kasar dan tidak terpuji. Sebaliknya, keadaan muridnya sering kali tidak seperti yang dia tuduhkan atau dia sangkakan.

Billy berpikir keras. Dia marah. Dia sedih. Dia sedang menimbang-nimbang untuk masuk ke dalam Ruang Seni Musik lagi dan memukul bibir tebal gurunya itu.

“Kurang ajar! …. Kurang ajar!” Billy menggumam dalam hati tetapi lalu mengurungkan niatnya.

Luka di tubuh lebih dipercaya menyakitkan daripada luka di hati. Itu karena luka di tubuh kasat mata sedangkan luka di hati tidak ada yang bisa melihatnya. Luka di tubuh bisa diobati meskipun meninggalkan bekas dan tanda. Sembuh seiring waktu. Luka di hati tidak berbekas, tidak berdarah, tetapi sakitnya sampai mati. Luka dihati hanya bisa diobati sendiri oleh pemilik lukanya. Obat luka di hati adalah lupa dan maaf. Dari kelihatannya, saat ini Billy sama sekali tidak ingin memaafkan Surya.

Sebagai guru yang ikut mengajar Billy, aku tahu latar belakang keluarga Billy karena aku sering menyempatkan diri mengunjungi rumahnya untuk melihat keadaannya ketika dia sakit. Billy adalah anak ke empat dari enam bersaudara. Dia duduk di bangku SMP kelas satu. SMP kelas satu dalam sistem pendidikan Indonesia yang sekarang adalah kelas tujuh. Keluarga Billy tergolong dalam keluarga yang secara keuangan kurang berkecukupan. Billy jarang sekali makan pagi atau makan siang. Orang tua Billy sudah tua. Mereka sudah tidak bekerja. Ayahnya masih menerima uang pensiun dari perusahaan tempat ia bekerja dulu namun jumlahnya sudah tidak mencukupi. Umur kakak-kakak Billy, Billy, dan adik-adik Billy berselisih satu tahun di antara mereka. Kesulitan ekonomi keluarga Billy membuat Billy dan saudara-saudaranya tidak terurus. Baju Billy selalu terlihat kotor dan selalu tidak disetrika.

Bau badan Billy tidak sedap dan menyengat. Dia jarang mandi sebelum pergi ke sekolah. Semua anggota keluarganya harus memakai kamar mandi secara bersamaan setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah. Sehingga perlu waktu lama untuk mendapat giliran mandi. Billy tidak mandi agar tidak terlambat pergi ke sekolah setiap hari meskipun pada kenyataannya, tetap saja dia sering terlambat datang di sekolah. Ditambah lagi dengan tidak adanya orang yang membimbing atau memaksa Billy untuk bangun lebih pagi dan mandi pagi. Hampir seluruh permukaan wajah Billy terinfeksi panu karena jarang mandi.

Jumlah saudara Billy cukup banyak. Rumah Billy sangat kecil. Hal itu membuat rumahnya penuh dengan penghuni. Jangankan untuk mengerjakan PR atau belajar, untuk berjalan dari dapur ke ruang tamu saja sangat sulit untuk tidak saling bertabrakan antara penghuninya. Wajarlah kalau ternyata Billy tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumahnya. Billy tidak memiliki tempat belajar di rumah.

Tidak bisa karena keadaan rumah dan keluarga yang tidak mendukung tidak sama dengan tidak bisa karena tidak tahu cara mengerjakan pekerjaan rumahnya. Sebenarnya, ketidakbisaan Billy mengerjakan pekerjaan rumahnya bukan karena dia malas, tetapi karena tidak ada ruang dan waktu untuk mengerjakannya. Ironisnya, masih saja ada guru-guru yang seperti Surya di dunia pendidikan Indonesia saat ini. Masih ada guru yang tidak mau memahami keadaan murid seperti Billy. Semoga jumlah guru yang tidak peduli itu tidak lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang peduli karena di tanah kelahiran Billy, Papua, anak seperti dia sangat banyak jumlahnya.

Ketika suasana di rumah siswa tidak mendukung mereka untuk hidup layak, pantaskah guru menutup mata akan hal itu? Seberapa pentingkah sebuah Pekerjaan Rumah atau P.R. untuk menentukan prestasi belajar siswa? Ketika suasana di rumah siswa tidak terasa selayaknya rumah, bisakah sekolah mengambil peran menjadi rumah ke dua mereka? Kalaupun tidak bisa menjadi rumah bagi raga, setidaknya menjadi rumah bagi hati dan imajinasi sajalah.

Sering kita dengar dan lihat bagaimana kepala sekolah atau guru berceramah menceramahi para muridnya atau para orang tua dan wali muridnya dengan berkata bahwa guru adalah orang tua murid di sekolah. Jadi, guru harus dihormati. Tapi, benarkah bahwa di sekolah-sekolah kita banyak guru yang mau menjadi orang tua untuk anak-anak seperti Billy? Billy yang terinfeksi jamur kulit, yang bau, yang kurus dan dekil, yang katanya nakal, yang katanya malas bersekolah, dan yang katanya bodoh?

Di saat-saat sedih setelah diusir ke luar dari kelasnya, Billy seolah tenggelam dalam perasaan hina, malu, dan tidak berguna. Di belakang kantin sekolah, Billy menyembunyikan dirinya. Mencoba menghibur diri, Billy pelan-pelan menyanyikan lagu nasional yang sudah dihapalkannya. Billy menyanyi dengan BENAR dan LANCAR.

… Lalu? … “Di mana P.R.-mu, Bill?”

Selesai.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s