Pekerjaan Rumah Billy (1/2)

Timika, Papua.

Burung-burung berkicau riang. Langit cerah. Rerumputan dihiasi titik-titik embun bak taburan berlian kecil-kecil. Saputan kabut tipis menghiasi hangatnya pagi. Semua tampak indah dan segar, kecuali raut muka seorang anak kurus dan dekil, Billy.

Pagi itu, Billy datang ke sekolahnya dengan muka pucat. Dia terlihat sakit. Billy tampak letih namun berusaha keras untuk menegakkan kepalanya agar terlihat bersemangat. Penampilannya lusuh. Bajunya belum disetrika. Billy sebenarnya adalah anak yang tampan. Hanya saja, tubuhnya tak terurus. Rambut keritingnya mulai panjang dan kusut. Jika dibiarkan panjang, rambutnya bisa menjadi gimbal secara alami. Bisa jadi bagus. Seperti penyanyi-penyanyi reggae terkenal namun dengan aroma kuat anak burung yang masih tinggal di sarangnya. Celananya berbercak-bercak putih dan coklat di sana-sini. Dengan pelan, dia menyeret kakinya berjalan menuju ruang seni musik.

Sekolah Billy terletak di dataran rendah yang panas dengan curah hujan yang tinggi di tepi hutan lebat yang masih asli. Pemandangan alam dari sekolah Billy sangat indah. Tumbuhan-tumbuhan liar di sekitarnya tampak asri alami. Pada pagi hari, jika cuaca cerah, murid-murid bisa melihat puncak Gunung Jayawijaya yang dihiasi salju. Sayangnya, kira-kira sepuluh tahun terakhir ini, lapisan es itu menjadi semakin berkurang karena mencair dengan cepat.

Di depan Ruang Seni Musik, Billy dan kawan-kawannya di kelas 6D sedang menunggu giliran untuk dipanggil ke dalam ruangan. Suasana tegang. Hari itu ada ujian menyanyikan lagu nasional. Murid boleh memilih salah satu dari tiga lagu yang sudah diajarkan oleh Surya, guru kesenian di sekolah itu. Ketiga lagu tersebut adalah Bandung Lautan Api, Hari Merdeka, dan Surabaya.

Billy memilih lagu Bandung Lautan Api. Meskipun belum pernah pergi ke Kota Bandung, namun Billy merasa bahwa lagu yang dipilihnya itu bagus karena ada kata “lautan api”nya. Murid yang lain kebanyakan memilih Hari Merdeka. Sedikit murid yang tertarik menyanyikan lagu Surabaya. Itu karena mereka jarang sekali mendengar lagu itu dinyanyikan. Saat menunggu giliran, terlihat beberapa murid mengerjakan tugas lainnya sambil duduk-duduk di lantai dan bangku taman.

Selain ujian menyanyi, rupanya hari itu ada pekerjaan rumah yang harus dikumpulkan sebelum mengikuti ujian menyanyi. Billy tidak siap untuk keduanya. Bandung Lautan Api memang sudah dia hapalkan, tetapi dia merasa kurang percaya diri akan kemampuannya bernyanyi. Ditambah dengan pekerjaan rumah yang belum selesai, konsentrasi Billy amblas. Dia tidak ingat lagi lirik lagu Bandung Lautan Api yang sudah dia hapal.

Waktu terus berjalan. Tiba giliran Billy untuk mengumpulkan pekerjaan rumahnya dan menyanyikan lagu nasional pilihannya. Billy berjalan ketakutan sehingga badannya gemetaran. Dia lalu masuk ke dalam Ruang Seni Musik.

“Mana PR-mu?” tanya Surya, guru Seni Musik.

Belum apa-apa, tatapan mata Surya sudah sinis. Bibirnya yang tebal di bagian bawahnya semakin terlihat menjulur. Memantul-mantul seolah mencemooh Billy. Sebenarnya, melihat itu Billy ingin sekali tertawa. Dia menahan sekuat tenaganya untuk tidak tertawa. Billy mengatur napasnya sambil mengepalkan tangannya ke bawah menahan rasa grogi. Lalu tiba-tiba Billy lemas.

“Tidak, … tidak…, tidak bisa kerjakan, Pak,” jawab Billy pelan.

“Kamu ini! Kebiasaan! Mau jadi apa kalau kamu malas begini?!” Surya membentak Billy dengan keras hingga semua murid yang di luar ruangan juga bisa mendengarnya.

Suasana ujian bertambah tegang. Perasaan Billy semakin takut dan tidak nyaman. Billy tidak mau menjadi sumber kekesalan gurunya itu. Biasanya, kalau Surya sudah kesal, semua teman sekelas Billy juga akan ikut menjadi sasaran kekesalan Surya juga. Billy takut nanti teman-temannya semakin menjauhi dia.

“Keluar!” teriak Surya.

Billy tidak bergerak.

“Keluar!” teriak Surya lagi.

“Kamu ini tuli ya? Atau tidak mengerti Bahasa Indonesia?” hardik Surya.

“Mengerti, Pak,” jawab Billy.

“Tapi, Pak. Eeeeeh…, itu, Pak. Eh, maaf… Saya tidak bisa kerjakan PRnya, Pak. Karenaaa… Karena itu, Pak… Maaf. Karenaaa…,” Billy mencoba menjelaskan tapi tiba-tiba semua kata-kata kabur dari kepalanya.

“Pemalas seperti kamu ini memang punya sejuta cara untuk cari alasan. Kamu pikir saya bodoh?! … Kamu itu yang bodoh! Jangan bohong-bohong! Kamu ini malas sekali! Nakal!. Dasar bodoh! Tidak usah pakai alasan-alasan!” Surya terus membentaki Billy.

Mata Billy memercing sebelah. Bibir gurunya itu terlalu dekat dengan mukanya. Ludahnya muncratmuncrat. Telinga Billy hampir tidak tahan menerima gelombang suara membahana dari bibir tebal gurunya. Kemudian tangan Billy ditarik oleh Surya. Ia setengah diseret supaya mau berjalan ke luar kelas.

“Keluar kau! … Atau saya tendang!” Surya mengancam.

Muka Billy terlihat merah menahan malu dan marah. Dia berjalan ke luar kelas dengan bergegas. Martabatnya hancur lebur, hatinya remuk redam, dan rasa percaya dirinya padam. Billy tidak berdarah, namun hatinya terluka parah. Luka yang teramat dalam untuk diceritakan oleh anak seusianya. Luka hati Billy itu mungkin akan dibawanya sampai ia mati.

(Bersambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s