Sepenggal Kisah Dua Ekor Burung

Seekor burung terbang bebas. Menukik ke kanan dan ke kiri. Terkadang dia terbang dengan kecepatan tinggi dan tiba-tiba menukik ke atas. Sering kali ketika dia bosan, sayapnya dilipat sehingga jatuh bebas. Kemudian, dengan cepat dia membuka lagi sayapnya sebelum seluruh tubuhnya terhempas di tanah. Dia riang sekali. Matanya ke sana ke mari mengamati semua yang ada di bawahnya ketika terbang.

Hari itu gerimis. Dia harus cepat mengumpulkan ulat dalam temboloknya untuk makanan anak-anaknya yang sedang menunggu di sarang. Sarang burung itu hangat. Tidak mewah, tetapi cukup untuk melindungi anak-anaknya dari panasnya matahari dan basahnya air hujan. Tidak secara total. Jika terik di siang hari, sebagian sinar masih menyentuh sarangnya. Jika gerimis seperti hari ini, percikan air masih mampu menerobos sampai membasahi kulit anak-anaknya. Tapi mereka hidup bahagia. Alam mengajarkan kepadanya untuk hidup berimbang.

Seekor burung lain menangis. Sering dia marah dan memaki apa saja yang bisa dimakinya. Hidupnya tak pernah kekurangan makanan. Kehangatan sinar matahari selalu dia dapatkan. Sejuknya air bersih dirasanya setiap hari. Sayapnya yang kokoh dengan bulu-bulu lebat dan sehat hampir tak pernah terbuka. Kakinya dia pakai melompat ke sana dan ke mari. Di sangkar.

Selesai.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s