“Di sana dia bisa tangkap ikan…” (3/3)

Tiga hari telah berlalu. Pada tiga hari itu, kota telah diguyur hujan deras. Pada tiga hari itu juga Siyors tidak terlihat di sekolahnya. Tedjo bertanya-tanya ke mana perginya Siyors.

Sewaktu Tedjo menanyakan perihal Siyors kepada wali kelasnya, seorang guru teman dekat Tebir berkomentar, “Hah, biar saja. Dia mungkin di hutan. Jangan salah sangka. Anak-anak asli sini sulit diatur. Dan, karena orang tuanya memberi contoh tidak baik, jangan heran kalau anak-anak lain seperti dia mungkin sedang pesta-pestaan dengan teman-temannya yang lebih tua dan sudah putus sekolah. Merokok-merokok dan isap lem. Anak seperti itu sudah tidak bisa dibina. Lebih baik kehilangan dia daripada semua anak ini terpengaruh tabiatnya.”

Tedjo benar-benar terkejut lalu terdiam. Dia prihatin sekali mendengar komentar seperti itu.

Keesokan harinya, Rahel, ibu Siyors, datang ke sekolah mencari Siyors. Dia ditemui oleh Tedjo dan Rafael, kepala sekolah, di ruang kepala sekolah.

“Jadi, sudah berapa lama Ibu mencari Siyors?” tanya Rafael.

“Sudah dua bulan, Pak,” jawab Rahel. Wanita setengah baya itu menundukkan kepalanya.

“Ha?!” Tedjo dan Rafael mengeluarkan komentar yang sama bersamaan.    “Kok bisa?!” tanya Tedjo.

Rahel bercerita bahwa Siyors dititipkan kepada pamannya karena suaminya, ayah tiri Siyors, tidak menerima Siyors di rumah mereka. Ayah tiri Siyors berpendapat bahwa Siyors seharusnya tidak menjadi tanggungan dia. Siyors adalah tanggungan ayah kandungnya.

Ayah kandung Siyors adalah pekerja tambang. Dia selalu berada di situs tambang yang terletak di gunung jauh dari keluarga. Setahu Rahel, dia hanya pulang dua bulan sekali. Ternyata, dia pulang seminggu sekali. Kabarnya, setiap dia turun gunung, dia selalu menghabiskan waktunya di rumah bordil di lokasi pelacuran di kota. Rumah tangga Rahel dengan suaminya rusak. Akan tetapi, bukan kebiasaan suaminya itu yang merusak rumah tangga mereka. Rahel sendiri hamil akibat hubungan gelapnya dengan tukang ojek yang sering menunggu penumpang di ujung gang depan rumahnya. Janin yang dikandungnya itu sudah lahir menjadi bayi mungil yang sekarang sudah berumur dua tahun. Mantan suaminya juga sudah menikah dengan pekerja seks komersial yang sering dia datangi. Cerita ini tidak diketahui oleh Tedjo, Rafael, dan semua guru di sekolah Siyors.

Rahel tidak sanggup menahan air matanya. Kelihatannya dia sangat rindu kepada Siyors. Suasana di ruang kepala sekolah menjadi haru dan hening.

“Kalau saya beri uang saku atau makanan kepada Siyors, saya dapat marah dari suami saya yang sekarang. Akhir-akhir ini saya sering dapat pukul dari dia,” Rahel melanjutkan ceritanya.

Mulut Tedjo dan Rafael terbungkam. Lidah mereka kelu.

Lalu Rafael bertanya dengan nada seolah-olah dia menawarkan solusi yang sangat tepat, “Kenapa dia tidak ikut ayah kandungnya saja?”

“Tidak. Tidak bisa! Jangan!” jawab Rahel.

Rahel mengusap air matanya.

“Ibu tahu bahwa saya bisa melaporkan kepada polisi tentang tindakan Ibu, suami Ibu, dan mantan suami Ibu karena menelantarkan Siyors? Ibu dan mantan suami Ibu sudah melanggar undang-undang perlindungan anak. Ibu tahu itu?” Rafael menakut-nakuti Ibu Siyors.

Semuanya diam.

“Saya tidak mau tahu, Ibu harus memberi perhatian kepada Siyors atau saya lapor polisi!” ancam Rafael.

“Sebenarnya, saya berani mencari Siyors ke sekolah karena saya sudah dapat jalan keluar untuk menyelamatkan Siyors agar tidak terlantar, Pak,” jawab Rahel.

“Oh ya? Apa itu?” tanya Tedjo.

“Begini, Pak. Saya akan mengirimkan Siyors ke rumah dia punya kakek saja. Di sana tidak ada yang galak. Tidak ada yang suka marah ke Siyors. Siyors punya kakek sangat sayang Siyors. Selain itu, di sana dekat dengan laut. Jadi, di sana dia bisa tangkap ikan kalau lapar,” jelas Rahel.

Kakek Siyors, ayah Rahel, adalah nelayan yang sangat menyayangi keluarganya. Ayah Rahel tinggal bersama ibu Rahel jauh di bagian utara pulau. Pembangunan di kota mereka jauh lebih tertinggal dibandingkan kota ini. Tidak banyak pendatang di kota mereka. Mayoritas penduduknya bekerja sebagai nelayan. Kebutuhan sehari-hari bisa didapatkan dari alam sekitar. Semuanya murah dan bisa dijangkau. Belum ada pemodal yang merusak keseimbangan sosial dan alam tempat tinggal mereka seperti yang terjadi di kota ini. Mereka tinggal merdeka di tengah keterpencilannya.

Sementara itu, mendengar jawaban Rahel tadi, Tedjo seperti mau pingsan. Perasaannya bercampur aduk. Dia tidak ingat lagi percakapan seperti apa yang dia dengar. Semuanya menjadi kabur. Tidak jelas. Tedjo berusaha menata ulang pikirannya.

Tiba-tiba terdengar Rafael berkata, “Baiklah kalau begitu. Kami akan bantu mencari Siyors. Kalau kami dapatkan dia, segera akan kami bawa kepada Ibu.”

Tedjo merasa menjadi orang terbodoh di dunia. Tedjo tidak bisa menembus batas pagar urusan keluarga Siyors. Sedangkan Rafael terkesan seperti memanfaatkan keadaan itu untuk segera menyingkirkan Siyors dari sekolahnya. Dalam hatinya, Tedjo tahu bahwa Siyors memerlukan pertolongan.

Urusan pribadi, urusan keluarga, batas-batas pekerjaan, dan profesionalisme seharusnya tidak menjadi penghalang bagi siapapun untuk menolong orang yang memerlukan. Benak Tedjo berkecamuk. Tedjo segera mendaratkan angannya kepada kenyataan bahwa dia hanyalah seorang manusia biasa. Kemampuannya terbatas. Di sekolahnya Tedjo tidak hanya mengurus satu siswa. Tedjo memiliki ratusan siswa lainnya. Tedjo hanya diam. Ada hal yang menurut Tedjo salah dengan semua ini namun dia tak berdaya. Hari itu, Tedjo pulang ke rumahnya dengan kepala terasa seperti terbentur dinding.

Hari berganti.

Di sekolah, setelah rapat pagi, seorang guru berkomentar, “Baguslah kalau begitu. Tahun depan kita sudah memastikan satu anak yang bakal tidak lulus Ujian Nasional sudah tidak ada di sekolah kita. Jadi, beban kita berkurang satu anak. Siyors itu sulit diurus.”

Hari itu siswa di sekolah Tedjo dipulangkan agak pagi karena tersebar kabar bahwa akan ada kerusuhan di kota. Akan banyak orang bersenjata tajam mencari dan membunuh siapapun yang bukan penduduk asli kota ini. Mereka marah. Kemarahan mereka disebabkan oleh adanya sebuah bus yang menabrak mati seorang yang mabuk dan berjalan tanpa arah di jalan raya. Bus itu sedang mengangkut pegawai Pemerintah Daerah menuju kantor. Kematian pemuda mabuk itu memicu kemarahan penduduk asli kota karena si pemuda adalah juga seorang putra daerah sedangkan sopir bus adalah seorang pendatang. Suasana kota mencekam. Orang-orang berdiam diri di rumah masing-masing.

Pada malam harinya, kerusuhan meletus di kota. Beberapa rumah terbakar. Puluhan orang menjadi korban. Suasana kacau. Orang-orang mati terbunuh. Mayat-mayat tergeletak di sisi-sisi jalan dan di dalam got-got. Orang-orang menjadi saling curiga. Isu apapun yang ada, akan sangat mudah memperkeruh suasana. Kota ini seperti tidak memiliki tentara dan polisi. Mereka tidak terlihat di manapun juga sampai pada akhirnya kerusuhan makin membara. Anarki di mana-mana.

Empat hari sudah kerusuhan berlangsung. Sekolah-sekolah dan perkantoran diliburkan. Tidak ada yang berani berkegiatan di luar rumah. Hari ke lima, polisi mulai terlihat hadir di kota. Panser-panser dikeluarkan. Tentara terlihat berjaga-jaga. Banyak korban sudah terlanjur jatuh. Pada hari ke enam, suasana mulai terasa aman. Tepat pada hari ke tujuh, semua sekolah dan perkantoran dibuka kembali.

Pagi itu, seluruh sekolah gempar. Guru-guru berkerumun. Siswa-siswa ramai berbicara tentang kerusuhan yang baru saja mengguncang kota. Nama Siyors disebut-sebut sebagai salah satu korbannya.

Pada siang hari, polisi meminta keterangan dari Tedjo apakah dia mengenal wajah korban yang terlihat di foto yang mereka bawa. Melihat foto itu, Tedjo terdiam membatu. Itu adalah Siyors.

Pada sore hari itu, Tedjo termenung di kantornya. Dia menatap langit dari jendela kantornya. Udara sejuk masuk dari pintu yang terbuka. Bau kopi dari gelas Tedjo memenuhi ruangannya. Tanpa usaha keraspun, dia akhirnya bisa merasakan apa yang dirasakan oleh anak-anak seperti Siyors, Remboh, dan anak-anak Papua lainnya. Tidak sadar, Tedjo menitikkan air mata. Semangatnya patah. Hatinya hancur berkeping-keping.

“Istirahatlah, Siyors!” ucap Tedjo pelan.

Sebulan berselang sejak kejadian itu, Tedjo memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya di Jawa.

Selesai.

Advertisements

3 thoughts on ““Di sana dia bisa tangkap ikan…” (3/3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s