“Di sana dia bisa tangkap ikan…” (2/3)

“Ya, ampun Siyors! Kenapa buku-bukumu kumal begini?” Tedjo berteriak kesal sambil tetap melihat isi tas Siyors.

Lalu, saat Tedjo memegang dedaunan dari tas Siyors, Tedjo bertanya dengan heran, “Untuk apa juga daun-daun ini? Ke sekolah kok bawa daun?”

Siyors tertunduk, namun Remboh malah melotot melihat ke arah mata Tedjo.

“Itu saya punya umpan untuk tangkap ikan,” jawab Siyors lirih.

“Hah? Tangkap ikan dengan umpan daun?! Baru dengar saya! Masak ikan mau makan daun?!” Tedjo menyelidik dengan nada tinggi.

Tedjo adalah guru muda. Usianya sekitar 27 tahun. Dia disegani murid-muridnya termasuk Siyors dan Remboh sehingga meskipun tegang, kedua siswa itu tidak takut kepada Tedjo. Mereka justru merasa aman karena sudah tidak berurusan dengan Tebir. Raut muka tegang yang terlihat di wajah mereka lebih disebabkan karena sisa ketakutannya kepada Tebir tadi.

Tiba-tiba Remboh menendang pelan kaki Tedjo. Tedjo membalas dengan melotot kepada Remboh tetapi langsung sadar bahwa tendangan itu hanya isyarat saja. Remboh masih memandang Tedjo dengan mata melotot. Anak kecil, gemuk, dekil, bermata lebar, berpipi tembem, berhidung bulat, dan berambut keriting itu tiba-tiba mukanya menjadi lucu. Lebih lucu lagi, dia memelototi Tedjo tanpa rasa takut.

Kemudian, Remboh berbisik kepada Tedjo untuk memintanya berbicara empat mata dengan Tedjo di kantor. Tedjo tidak mau begitu saja menuruti permintaannya. Tapi mata Remboh menyorotkan adanya sesuatu. Apapun arti sorotan itu, tampaknya seperti bukan niatan untuk menipu Tedjo. Tedjo menuruti ajakan Remboh yang seakan-akan tidak tahan segera ingin menjelaskan sesuatu kepada Tedjo.

Di kantor, Remboh mulai menyampaikan maksudnya.

“Pak Tedjo jangan tanya soal daun. Itu Siyors punya makanan. Itu daun pakis muda. Enak,” jelas Remboh.

Tedjo diam.

“Lalu?” tanya Tedjo.

Remboh meneruskan ceritanya, “Terus tasnya habis dibawa dia punya om pergi pancing ikan. Bukunya dilempar-lempar hambur di rumah sama dia punya om. Baju dan rokok itu yang punya dia punya om. Siyors itu kasihan. Dia tidak boleh tidur di rumah dia punya om, tapi dia harus selalu pulang ke rumah dia punya om. Siyors tidurnya di depan pintu. Om-nya sering tendang dia punya kaki.”

Tedjo mendengarkan cerita Remboh dengan penuh perhatian.

“Kamu tahu dari mana?” tanya Tedjo dengan suara lembut.

“Saya jujur, Pak! Siyors itu saya punya teman. Siyors tidak nakal seperti yang dibilang banyak guru. Saya punya mama sering kasih dia makanan,” jelas Remboh.

Meskipun sedikit percaya, Tedjo tidak menunjukkannya. Tedjo tetap memasang muka tegas.

“Lalu, kenapa kamu berada di luar juga? Apa salahmu?” tanya Tedjo.

“Saya mau kasih tahu ke Pak Tebir soal Siyors. Tapi dibilang membela anak yang salah. Pak Tebir tidak mau dengar. Jadi saya dapat usir juga,” Remboh menerangkan.

Tedjo berusaha tetap menunjukkan ketegasannya meskipun dia percaya kebenaran cerita Remboh.

“Hmm…, saya ingin sekali percaya ceritamu tetapi saya belum yakin dengan kebenarannya. Panggilkan Siyors ke sini. Suruh dia bawa tasnya juga!” perintah Tedjo kepada Remboh.

Setelah dipanggil oleh Remboh, Siyors berada di kantor Tedjo. Muka Siyors pucat. Saat itu Tedjo tidak tahu betul apakah dia pucat karena takut atau lapar. Dengan nada rendah dan halus, Tedjo meminta Siyors menjelaskan isi tasnya. Siyors menerangkan hal yang sama persis dengan yang dijelaskan Remboh kepada Tedjo.

Saat Tedjo bertanya kepada Siyors tentang cerita Remboh perihal pamannya, Siyors menangis dan bercerita seperti yang diceritakan oleh Remboh. Dia menambahkan bahwa pada setiap malam, dia bingung mau tidur di mana. Siyors tidak memiliki seorangpun yang memerhatikan dia kecuali Remboh, teman sebangkunya.

Tiba-tiba, Tedjo melihat Siyors seperti sangat kelelahan. Siang itu, Tedjo menyudahi pembicaraannya dengan Siyors dan Remboh. Tedjo memberikan uang dan meminta Remboh membeli makan siang di warung dekat sekolah untuk dia dan Siyors.

Setelah kejadian siang itu, sampai sore hari Tedjo tidak bisa berpikir apa-apa. Sedangkan Tebir, seperti biasa menganggap bahwa jika kasus seperti itu sudah diserahkan kepada wakil kepala sekolah, berarti itu sudah bukan tanggung jawab dia. Dia hanya mau melanjutkan harinya dengan mengajar anak-anak yang tidak bermasalah saja. Anak-anak yang mau mendengarkan apapun ceritanya dan mematuhi apapun perintahnya.

Tebir sering merasa benar sendiri. Lingkungan telah membentuk dirinya menjadi sombong. Dia adalah seorang penceramah agama di lingkungan tempat tinggalnya sehingga membuatnya merasa bebas melakukan apa saja kepada muridnya karena merasa bahwa pasti orang tua murid dan sesama guru sungkan kepadanya. Tebir tidak ragu menggunakan dalih-dalih agama untuk membenarkan sikapnya yang terkadang salah dalam mendidik siswa.

(Bersambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s