“Di sana dia bisa tangkap ikan…” (1/3)

Mikati, Papua.

Matahari baru mulai menunjukkan seringainya hari ini. Sinarnya baru akan menyentuh tanah, tetapi bau asap kelabu tebal dari sepeda motor para tukang ojek dan bus-bus para karyawan tambang sudah terlebih dahulu memenuhi jalanan kota. Sisa air hujan bercampur sampah, kotoran babi, lumpur, dan luapan air dari got-got buntu menyemarakkan bau busuk pekat yang semerbak di seluruh sudut kota. Muka-muka kusam, tegang, tertekan, dan jenuh menghiasi ujung-ujung gang sepanjang jalan. Hampir semua hal di sudut kota ini terlihat seperti mimpi buruk.

Di kota ini, banyak sekali sekolah. Pemerintah di sini mengizinkan begitu banyak sekolah didirikan tanpa dilengkapi dengan sarana yang layak dan memadai. Dorongan mendirikan banyak sekolah itu mungkin berasal dari para birokrat lokal. Dengan banyaknya sekolah, maka semakin besar pula anggaran biaya penyelenggaraan pendidikannya. Dengan anggaran yang besar, maka semakin besar pula upeti untuk para birokratnya. Sangat disangsikan bahwa anggaran biaya pendidikan disalurkan dengan benar. Jika benar, maka tidak mungkin akan ada satu sekolahpun yang sarananya tidak memenuhi kelayakan. Bau praktik korupsi para birokrat itu sangat menyengat sebusuk bau comberan kota ini.

Selain banyak sekolah, kota ini juga memiliki banyak tempat ibadah. Hampir di setiap gang. Ironisnya, meskipun banyak tempat ibadah, kedamaian jiwa terasa jarang hadir. Hampir setiap hari di ujung-ujung gang sepanjang jalan selalu ada keributan. Parahnya, sebagian besar keributan itu terjadi karena hal yang berseberangan dengan ajaran agama. Kerap kali terjadi pertikaian warga yang disulut oleh adanya perselingkuhan, perzinahan, pencurian, mabuk-mabukan, pembunuhan, pemerkosaan, perselisihan judi, dan hal-hal lain yang dianggap tidak beradab. Hampir semua penyakit sosial kira-kira pernah terjadi di kota kecil ini. Kota ini membusuk karena sakit. Dia sekarat.

Kota di pulau paling timur Indonesia ini memiliki cuaca yang serba terlalu. Saat panas, panasnya sangat menyengat. Pada saat hujan, hujan turun sangat deras. Kalau saja kota ini adalah Jakarta, mungkin jika hujan dalam satu jam saja akan terendam air. Hujan pada malam hari dan panas pada siang hari, menjadikan kota ini selalu lembab. Seisi kota ini juga seolah gerah dibuatnya.

Pada suatu siang di sebuah Sekolah Dasar, Siyors sedang terduduk ketakutan di gubuk halaman tengah sekolahnya. Siyors menyandarkan bahunya di sandaran kayu tempat dia duduk. Dia ditemani oleh Remboh yang juga hanya duduk terdiam dan menundukkan kepalanya. Siyors dan Remboh berumur sekitar 10 tahun. Mereka duduk di kelas 4 SD. Hari itu mereka dikeluarkan dari kelas PakTebir. Tebir adalah seorang guru pria di sekolah mereka. Kumisnya tebal penuh dengan semir hitam. Umurnya Tebir sekitar lima puluh tahunan.

Pada saat dia mengajar tadi pagi, Tebir mencium bau rokok dari sekitar tempat duduk Siyors di kelas. Tanpa basa basi dan penalaran yang dalam, dikeluarkanlah kedua anak itu dari kelas oleh Tebir. Tebir lalu melaporkan hal tersebut kepada Tedjo.

Tedjo, wakil kepala sekolah di sekolah itu, berjalan ke arah Siyors dan Remboh setelah menerima laporan dari Tebir tentang bau rokok yang ditemukan Tebir di sekitar bangku kedua anak itu. Ketika Tedjo mendekat, memang benar, dia mencium bau rokok yang menyengat dari mereka.

“Mengapa kalian di sini?” tanya Tedjo.

“Kata Pak Tebir, kita bau rokok, jadi kita dikeluarkan dari kelas,” kata Remboh.

Tedjo mencium-cium baju, tangan, dan rambut mereka. Dia tidak mencium bau rokok sama sekali. Akan tetapi, ketika Tedjo mengendus-endus tas milik Siyors, barulah bau rokok itu muncul. Aroma tembakaunya tajam. Tedjo langsung membongkar tas milik Siyors.

Sambil memeriksa isi tas Siyors, Tedjo berkomentar, “Wah, bau tembakaunya tajam sekali? Kamu tidak merokok di dalam lingkungan sekolah, kan?”

Tedjo melanjutkan penggeledahan tas milik Siyors. Baunya sangat tidak enak. Dia menemukan bungkus rokok dengan isi delapan batang rokok. Lima batang masih utuh. Beberapa batang lainnya hancur dan tembakaunya memenuhi dasar tas. Tedjo mengaduk-aduk tas yang dipegangnya itu. Tak lama kemudian, Tedjo menemukan senar nilon, dedaunan, kemeja kotor, dan buku-buku kumal.

(Bersambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s