Ular

Di sebuah desa yang dekat dengan sebuah hutan, terdapat sebuah sekolah yang bernama Sekolah Dasar Negeri 15 atau yang lebih dikenal dengan nama SDN 15. Sekolah tersebut banyak dibantu oleh perusahaan asing yang beroperasi di bidang pertambangan di Papua Barat, Indonesia.

Lokasi SDN 15 cukup terpencil. Seperti pada umumnya, sebagian penduduk di lokasi terpencil sering kali ketinggalan informasi tentang dunia luar. Untuk mengatasi hal itu dan untuk mengimbangi cepatnya arus informasi di luar pulau, maka SDN 15 dibantu oleh pengusaha-pengusaha lokal dan perusahaan besar di sekitarnya, mendatangkan guru-guru dari luar Pulau Papua. Mereka adalah guru-guru yang dianggap memiliki ilmu mendidik terkini dan hebat. Mereka terbaik di daerah asal mereka. Guru-guru di SDN 15 datang dari berbagai pulau di Indonesia.

Salah satu guru yang mengajar di SDN 15 adalah seorang perempuan bernama Lina. Lina berasal dari Jakarta, Ibu Kota Republik Indonesia. Dia mengajar siswa kelas 2. Sebagai ibu dari 3 orang anak, Lina memiliki sifat keibuan yang jelas.

Pada suatu hari, Lina sedang menerangkan tentang berbagai jenis ular yang hidup di sekitar sekolah kepada murid-muridnya. Hari itu, Lina membawa sebuah proyektor dan komputer lipatnya. Dia menunjukkan gambar-gambar ular. Murid-muridnya senang. Lina juga memutarkan mereka sebuah film dokumentasi tentang bermacam-macam ular. Terdengar suara-suara decak kagum dan sesekali ungkapan kengerian dari murid-murid Lina. Sebagian dari mereka ada yang takut, geli, dan ada juga yang penasaran.

“Ular jenis ini berbisa. Bisa adalah kata lain dari racun yang dihasilkan oleh ular. Jika ular yang berbisa menggigit manusia, akibatnya bisa mematikan. Seseorang yang mendapat gigitan dari ular berbisa bisa meninggal jika tidak segera diobati,” Lina menjelaskan kepada murid-muridnya dengan penuh semangat dan mimik yang menunjukkan kengerian terhadap ular.

Lina adalah guru yang kreatif. Dia bisa dengan mudah menarik perhatian murid-muridnya. Gerak-geriknya penuh energi. Dia idola para siswa kelas 2 di SDN 15.

Tiba-tiba terdengar suara Tomi, “Kemarin saya lihat ular, Bu Guru! Besar! Di situ. Di depan sekolah!”

“Oh ya?” Lina berusaha berpura-pura kaget. Dia sudah mengetahui bahwa di sekitar sekolah memang banyak berkeliaran ular.

“Awas ya! Jangan didekati! Bisa-bisa kalian digigit!” Lina mengingatkan murid-muridnya.

“Satu lagi, Tomi. Kalau mau berbicara, angkat tangannya dulu. Jangan langsung berteriak. Nanti saya dan teman-temanmu kaget,” kata Lina kepada Tomi.

“Ah, kecil mo!” Boi menyahut.

“Itu besar!” Tomi berteriak kepada Boi.

“Keciiiil… !” tiba-tiba terdengar Boi, Asrul, Dani, dan Peranus berteriak bersama-sama seperti paduan suara yang berantakan.

“Hus! Diam kalian!” bentak Lina.

Kelas yang hampir gaduh itu mendadak menjadi hening oleh bentakan Lina.

“Tapi kemarin, Bu …,” Peranus perlahan mau berbicara.

“Eits! Sudah! Tidak usah dibahas lagi. Kita kembali ke pelajaran,” potong Lina.

Lina melihat jam dinding di kelas. Sebentar lagi kita istirahat. Kurang lima menit lagi. Sambil berjalan menuju mejanya, Lina memulai menerangkan tentang ular yang tadi sempat terhenti. Lalu tiba-tiba dia berhenti. Dia memeriksa daftar hadir siswa hari itu.

“Eh, omong-omong, ke mana si Maro? Ada yang tahu?” tanya Lina kepada seluruh muridnya di kelas.

“Tidak, Bu …” jawab murid-murid Lina serentak.

“Baiklah. Ibu ulangi ya… Janganlah kalian dekat-dekat dengan ular yang ada di lingkungan sekitar kita. Sekolah dan tempat kita tinggal dekat dengan hutan, jadi sangat banyak ular yang berbahaya. Mengerti?!” Lina menasihati murid-muridnya sambil merapikan buku-buku yang ada di mejanya.

“Waaa..aaaah!” teriak Tehina, perempuan paling kecil di kelas tetapi suaranya paling keras, diikuti oleh semua murid di kelas.

“Ah! Ah! Ah!” teriak anak-anak kacau.

Tepat di tengah pintu yang terletak di belakang Lina berdiri, Maro dengan hidung beringus dan pipi penuh lumpur tersenyum-senyum. Topinya dipakai terbalik. Dasinya tidak berada tepat di dadanya, tetapi miring ke kanan. Bajunya kotor. Badan kurusnya yang dekil berdiri tegak. Di lehernya terkalung sebuah ular boa tanah yang lemas dan terlihat lelah. Rupanya Maro sudah bermain-main dengan ular itu cukup lama. Mungkin sepagian tadi. Kedua tangan Maro merenggang ke samping masing-masing memegang kepala dan ekor si ular yang malang.

 

“Saya dapat ular, Bu Guru,” kata Maro dengan senyum lebar dan wajah berseri-seri karena bangga.

Sementara itu, murid-murid perempuan sudah berdiri di atas meja dan Lina pingsan di atas tempat duduknya. Hari itu, sekolah gempar karena Maro membawa ular ke sekolah. Hari itu juga, Pak Kepala Sekolah sedang sakit maag.

Selesai.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s