Ubi Bakar

Lampu gemerlap menghiasi setiap sudut dan lorong. Bau semerbak masakan khas dalam negeri dan luar negeri menyeruak dari setiap gerai restoran modern mal ini. Gelak tawa terdengar di mana-mana. Percakapan khas manusia kota dan bunyi notifikasi dari telepon pintar remaja Jakarta berlomba-lomba mencari perhatian. Suap demi suap masakan nikmat nan mahal tertelan dan terkecap oleh mulut-mulut penghuni metropolitan. Ayu tertawa riang. Malam itu dia menikmati makan malam terakhirnya di Jakarta bersama keluarga dan koleganya. Setidaknya adalah malam terakhir sampai enam bulan ke depan. Dia akan berangkat ke Papua Barat keesokan malamnya.

Ayu, seorang perempuan mandiri yang lincah. Umurnya sekitar empat puluhan. Ayu menolak menikah sampai dia merasa puas berkarir dan bersenang-senang dengan kemandiriannnya. Pengalamannya dalam bidang pendidikan dan pengelolaan asrama sebuah sekolah mahal di Jakarta membuatnya mendapatkan pekerjaan baru di Papua Barat. Pekerjaan barunya adalah menjadi pengawas asrama anak Papua di sebuah kota kecil di Papua Barat.

Penghuni asrama tempat Ayu bekerja nanti adalah anak-anak desa dari pegunungan tengah Papua Barat. Anak-anak berumur tujuh sampai empat belas tahun itu dikirimkan oleh keluarganya untuk bersekolah di kota dengan biaya sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Sangat mustahil jika anak-anak itu harus pergi ke sekolahnya setiap hari dari rumah mereka sendiri. Rumah mereka sangat sulit dijangkau dan jauh dari kota. Jangankan manusia, kabel-kabel listrik dan sinyal telepon saja belum menjangkau desa mereka. Asrama adalah cara terbaik untuk menjaga mereka agar bisa tetap bersekolah.

Hari ini adalah hari pertama Ayu bekerja. Seperti yang sering dia lakukan di Jakarta, saat pertama bertemu dengan anak-anak penghuni asrama, Ayu selalu mengajak mereka makan bersama. Tibalah waktu makan malam pertama Ayu dengan anak-anak asrama. Di luar bayangannya, suasana sangat hening. Penuh dengan tatapan mata meyelidik dan tidak ada rasa percaya. Di Jakarta, anak-anak asrama akan mengajukan segudang bahkan lebih pertanyaan kepada pengawas asrama yang baru saat makan malam perkenalan mereka. Di sini, tidak! Mereka hanya diam dan makan secepatnya.

“Apa yang sedang terjadi? Seandainya aku adalah mereka, apa yang ada di benakku? Mengapa hal ini terjadi? Ada apa sebelumnya dengan asrama ini?” Ayu bertanya-tanya dalam hati di kamarnya tidak lama setelah makan malam bersama anak-anak penghuni asrama.

Keesokan harinya, pada sore hari, ketika semua anak sedang diperbolehkan bebas berkegiatan, Ayu menemui Juliban, anak tertua di asrama.

Ayu menyapa, “Apa kabar, Juliban?”

“Baik, Mama,” jawab Juliban tanpa menatap mata Ayu. Di sini, pengawas asrama perempuan dipanggil dengan sebutan Mama Asrama. Entah mengapa, hal itu lebih sopan daripada memanggil orang dengan namanya, misalnya Ibu Ayu.

“Tentang tadi malam, mengapa semua diam? Apakah saya berkata-kata salah kepada kalian?” tanya Ayu.

“Ah tidak, Mama,” jawab Juliban singkat.

“Lantas mengapa semua diam,” tanya Ayu lagi.

“Begini, Mama. Kita su bosan dengan makanan yang itu lagi dan itu lagi,” Juliban mulai mau berbicara dengan agak banyak kata.

“Oh ya?” Ayu terkejut. Menurutnya masakannya enak.

“Ya, Mama!” jawab Juliban sambil langsung lari. Ayu ditinggalkan begitu saja.

Dari jauh, Juliban berteriak, “Maaf, Mama! Sa mo main bola dulu e!”

Ayu menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Hmm… Mungkin mereka rindu masakan orang tua mereka atau makanan desanya. Pastinya mereka bosan dengan masakan asrama. Yang disajikan setiap hari adalah rendang daging, opor ayam, sayur nangka muda, urap-urap, dan berbagai macam masakan Jawa dan Sumatera atau pulau-pulau lain di Indonesia selain Papua. Mungkin aku harus tanya kepada Juliban, makanan apa yang sedang mereka rindukan,” Ayu berbicara dengan dirinya sendiri.

Setelah bertemu Juliban, Ayu mengerti bahwa anak-anak itu ingin sekali makan malam di luar ruangan dengan api unggun sambil memanggang ubi atau singkong.

Karena Ayu ingin sekali merebut hati mereka, maka keesokan harinya Ayu pergi ke pasar dan berbelanja segala keperluannya. Ayu mencatat semua barang yang dia pikir akan diperlukan pada malam harinya. Di pasar, Ayu membeli ubi, singkong, daging ayam, dan daging babi. Tidak lupa, dia membeli berbagai macam bumbu, saus tomat, saus BBQ dan kecap. Alat-alat untuk memanggang makanan juga dia beli. Arang dan minyak tanah tak luput dari catatannya. Terbayang wajah riang anak-anak itu karena menyukai makan malamnya nanti. Dengan senang hati, Ayu kembali ke asrama.

Malam yang ditunggu-tunggu telah tiba. Ayu mengumpulkan anak-anak asrama. Anak-anak kecil bermunculan. Akan tetapi, di Juliban dan anak-anak besar lainnya tidak ada di aula. Ayu bingung. Anak-anak kecil itu tidak mengerti apa-apa. Mereka tidak tahu ke mana kakak-kakak mereka pergi.

“Mama Ayu! Mama!” terdengar Juliban memanggil-manggil dari luar.

“Dari mana kalian?!” teriak Ayu hampir terbakar emosinya. Ayu ketakutan. Dia tidak habis pikir apa konsekuensinya jika pada minggu pertamanya bekerja sebagai pengawas asrama, setengah anak asuhnya hilang tanpa jejak. Bisa-bisa Ayu dipecat dan dituntut oleh para orang tua mereka untuk bertanggung jawab secara hukum.

“Mama marah? Ini Mama… kita ada pergi cari kayu bakar,” jawab Erlince, anak perempuan sebaya Juliban.

“Buat apa? Saya sudah siapkan semua! Kalian cepat masuk sini dan cuci tangan! Saya tidak suka ini!” Ayu berkata tegas.

“Brak!” bunyi kayu bakar terbanting di tanah.

“Ya, Ibu,” kata Juliban lirih. Itu adalah pertama kali dia memanggil Ayu dengan panggilan Ibu. Suasana tegang.

Tiba-tiba Erlince berkata, “Bikin sudah, Ibu!

Ayu ke luar ruangan dan mempersiapkan semuanya dibantu oleh para pengurus asrama lainnya. Para pengurus, asrama anak buah Ayu, tidak satupun yang asli Papua. Para orang dewasa itu menyusun rapi alat panggang, kayu bakar, arang, dan semua alat dan bahan yang diperlukan. Mereka berkeringat, bersusah payah mengangkat kayu dan membuat api. Akhirnya, ketika siap, Ayu mengajak anak-anak asrama ke luar.

“Apa ini, Mama?” tanya Juliban.

“Kita mau memasak dengan api unggun,” jawab Ayu dengan senyum.

“Masak begini?” tanya Juliban heran.

“Ya, dong!” jawab Ayu dengan nada seramah-ramahnya.

Tida, Mama,” Juliban menyanggah.

Kita tra suka,” tambah Juliban.

“Boleh kita bantu?” Erlince tiba-tiba muncul dan ikut dalam percakapan.

“Boleh,” jawab Ayu singkat.

Segera, tanpa diperintah, semua anak yang besar mengambil kayu bakar dan membakarnya di atas tanah. Lalu mereka mengambil ubi, singkong, membungkus daging ayam dan daging babi dengan daun seadanya, kemudian menguburnya dengan kayu yang membara. Ubi, singkong, dan lain-lainnya itu langsung menjadi gosong. Ayu memperhatikan saja.

Tidak lama setelah semua bahan berada di dalam bara, anak-anak kecil berkumpul di sekitar api yang mereka buat. Api unggun buatan Ayu dan anak buahnya dibiarkan menyala tanpa perhatian. Anak-anak besar mulai berteriak-teriak menyanyikan irama kampung mereka. Suasana mendadak menjadi meriah namun magis. Semua anak berseri-seri. Juliban tersenyum-senyum melihat Ayu yang kebingungan.

Agak lama kemudian, Ayu dan anak buahnya yang berada di pinggir lapangan asrama ditarik tangannya oleh anak-anak yang kecil. Juliban mengumpulkan makanan yang sudah matang. Erlince membagikan bungkusan daging ayam dan ubi pertama kepada Ayu.   “Silakan, Mama,” Erlince mempersilakan Ayu untuk makan.

“Terima kasih, Erlince!” jawab Ayu dengan tersenyum senang.

Malam itu, suasana senang. Anak-anak makan dengan lahap. Segudang pertanyaan tentang kampung Ayu disampaikan oleh anak-anak. Berbagai macam cerita sedih dan konyol curahan hati anak-anak asrama terdengar silih berganti. Ayu diterima sebagai Mama malam itu.

Keesokan harinya, Ayu dan anak buahnya membersihkan sisa kegiatan tadi malam. Sejak pagi hingga tengah hari, pekerjaan mereka baru selesai. Tiba waktunya makan siang, catering asrama datang. Anak-anak berkumpul untuk makan siang bersama. Meskipun dengan menu yang sama, mereka makan dengan lahap dan saling bercerita gembira tentang apa saja. Suasana lebih hidup.

Matahari baru saja tenggelam. Ayu terdiam di kamarnya. Wajahnya menyimpan berbagai rasa. Dia sadar bahwa begitu sombong dirinya. Datang dengan semangat pembaruan yang menggelora. Berusaha melakukan hal yang sudah lama dilakukan tetapi dalam situasi yang berbeda. Berharap bahwa semua hal di dunia ini sama. Dia sadar bahwa perbedaan cara memasak ubi bakar saja mampu mengubah hubungan antarmanusia. Kepongahannya harus segera diakhiri. Ini saatnya Ayu belajar menjadi seperti air. Menjadi cair sehingga bisa menyesuaikan diri di mana dia berada, siapa yang dia layani, dan budaya apa yang dia hadapi. Ini saatnya dia kembali menggali hatinya lagi. Menjadi murni dan mengabdi kepada hal-hal hakiki.

“Seandainya aku mereka, …” Ayu termenung. Tiba-tiba dia ingat akan sesuatu.

“Aduh! Aku akan apakan bumbu-bumbu dan saus mahalku?” tanya Ayu kepada diri sendiri.

Lalu dia tertawa, “Ha ha ha ha ha ha!”

Di buku hariannya, Ayu menuliskan: “Terima kasih, Anak-anakku! Kalian mengajari aku bagaimana caranya menjadi tamu.”

Selesai.


https://pixabay.com/en/yuca-cassava-vegetable-food-1353258/

Advertisements

2 thoughts on “Ubi Bakar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s