Suka yang Manis-manis (4/4)

Malam harinya, kira-kira pukul 19:00, mereka bertemu di tempat yang sudah disepakati.

“Sudah makan, Billy?” basa-basi Parno memulai pembicaraan.

“Sebentar lagi,” jawab Billy.

“Saya suka kuskus atau tikus tanah yang dibakar. Sedaaaap!” kata Billy.

“Waduh! Ha, ha, ha, hiii…!” Parno tertawa geli.

“Ayo, Billy! Kita mulai! Tunjukkan cara menangkap tikus hutan atau kuskus malam ini!” Parno menantang Billy.

“Pasti sulit, ya?!” Parno menambahkan.

“Tidaklah! Mudah itu… Kita taruh saja sisa-sisa makanan ini di pinggir hutan sekitar sini, nanti pas mereka keluar, langsung Pak Guru lempar pake batu dan saya ketapel dia,” jawab Billy.

“Biasanya sih mereka tidak akan lari kalau melihat kita. Jadi gampang,” tambah Billy.

Rupanya sebelum Billy berangkat berburu, dia sudah menyiapkan umpan. Umpan-umpan yang dia miliki didapat dari sisa-sisa makanan di tong sampah sekolah dan sekitar perumahan warga. Tidak ada umpan yang berupa sisa nasi atau makanan rumahan lainnya. Yang ada adalah remah-remah biskuit dan bonggol apel atau sisa-sisa kulit buah.

Ingin membuktikan omongan Billy, Parno membantu menebar sisa-sisa makanan sebagai umpan. Setelah itu, mereka duduk di pinggir hutan. Sesekali mereka bercanda dan tertawa tetapi berusaha untuk tidak terlalu berisik.

Dari percakapan dengan Billy, Parno merasakan bahwa anak seperti Billy itu masih polos. Billy tumbuh wajar tanpa tersentuh banyak cerita cinta picisan penuh kosmetik dari layar kaca. Dia juga tidak haus perhatian seperti anak-anak kota yang selalu daring dengan media sosial mereka di internet. Billy tidak ikut menjadi  budak pencari perhatian yang narsis. Ketika anak-anak kota nan manja memaku matanya ke layar kaca, layar telepon pintarnya, dan atau gawai-gawai elektronik lain pemberian orang tua mereka sambil merengek menunggu makan malam disiapkan ibu atau pembantunya, Billy menatap tajam pinggiran hutan untuk menangkap calon makan malamnya.

Agak lama mereka duduk-duduk dan bercanda, seekor kuskus datang mengendus-endus umpannya. Sementara dua ekor tikus hutan berhati-hati mulai mendekat juga.

“LEMPAR, PAK!” Billy berteriak memerintahkan gurunya untuk melempar kuskus yang datang itu dengan batu.

“Eh! Lempar! Lempar! Ya, Billy. Eh! Lempar Billy! Billy dilempar! Oh, iiihhhhh, ah, uuuh!!!” Parno teriak-teriak tidak karuan.

Suasana kacau sekaligus menggelikan. Parno yang kaget karena teriakan Billy terjatuh terjengkang ke belakang. Batu kecil di genggamannya tidak bergerak ke mana-mana.

Pada saat itu, rahasia Parno terungkap. Dia ternyata tidak setenang kelihatannya. Parno adalah seseorang dengan pribadi yang mudah bingung dan panik lalu cenderung menjadi latah.

“Ha ha ha ha! Lataaaaaaaahh!” teriak Billy sambil tertawa terbahak-bahak.

Dua ekor tikus hutan yang mendekat langsung lari terbirit-birit ke dalam hutan. Si kuskus terlihat bingung. Dia melompat masuk ke dalam pinggiran hutan karena keberisikan dua orang manusia itu. Namun, dengan sigap dan cekatan, Billy melompat menyambar kuskus yang setengah bingung itu. Luar biasa! Tanpa bantuan suatu alatpun, Billy berhasil menangkap si kuskus meskipun mukanya menjadi kotor dengan tanah. Parno takjub melihatnya.

Malam itu Parno menjadi saksi kehebatan muridnya dalam berburu binatang di hutan. Sementara Billy menjadi saksi kelatahan gurunya yang selama ini tidak terungkap. Billy terus menahan tawanya agar Parno tidak terlalu malu meskipun tadi dia sudah terlanjur mengatai gurunya itu latah. Billy masih menghormati gurunya.

Billy diminta oleh Parno untuk melepaskan kuskus tangkapannya. Malam itu Billy tidak jadi memanggang kuskus untuk makan malamnya. Parno mengajak Billy makan bersama di sebuah warung kaki lima. Billy terlihat sangat senang. Di bawah remangnya lampu kaki lima, terlihat lengan dan wajah Billy penuh tanah akibat adegan penangkapan kuskus yang baru saja terjadi tadi. Keduanya makan dengan lahap.

Berbeda dengan orang-orang kaya yang berburu demi hobi, Billy berburu karena orang tuanya jarang sekali memberi dia makan malam. Jangankan makan malam, makan pagi dan siang saja jarang. Anak-anak seperti Billy ini datang ke sekolah untuk mendapatkan makanan. Aneh bukan? Mereka tidak belajar pelajaran di sekolah. Mereka sedang belajar bertahan hidup.

Anak-anak yang senasib dengan Billy menyukai sekolah karena mereka selalu mendapatkan makanan dari teman-teman mereka yang selalu tidak menghabiskan bekalnya. Anak-anak yang membawa bekal serba enak itu sebagian besar berasal dari keluarga yang berkecukupan. Salah satu teman Billy yang selalu memberi-berikan bekalnya adalah Ryan.

Di sekolahnya, Billy selalu tidak sabar menunggu waktu istirahat makan siang demi mendapat sebagian sayur dari bekal yang dibawa oleh Ryan. Ryan dengan bangga memberitahu orang tuanya bahwa dia selalu menghabiskan sayur yang dibekalkan pembantunya setiap hari. Kenyataannya adalah Billy lah si pemakan sayur di bekal Ryan. Kalau sedang beruntung, Billy mendapatkan ayam goreng atau sate babi manis juga. Ryan cukup makan siang dengan dua batang coklat karamel impor yang selalu ada di lemari es rumahnya. Tubuh Ryan gendut sehingga berjalan saja dia sering ngos-ngosan.

Billy sebetulnya adalah anak yang cerdas. Hanya saja, sikap dan tingkahnya yang tidak sama dengan kebanyakan temannya menjadikan dia perhatian banyak guru dan membuatnya dianggap sebagai anak nakal. Maklum, tidak ada yang mengarahkan perilaku Billy di rumahnya. Dia bagaikan hidup sendiri. Kedua orang tuanya seakan tidak peduli antara satu dengan lainnya. Himpitan masalah ekonomi membuat keluarga Billy tidak harmonis.

Keesokan paginya di sekolah, Billy menghampiri Parno.

Billy membisikkan kepada Parno, “Bagaimana? Pak Guru percaya kalau saya bisa tangkap kuskus, kan?”

“Ya,” jawab Parno sambil tersenyum.

“Eh! Sssssttt! Semalam saya bukan latah ya… Hanya kaget!” Parno menambahkan.

“Ha, ha, ha, ha…! Aman itu, Pak Guru. Saya percaya,” kata Billy.

“Tapi, Pak Guru tahu kan, kalau tikus hutan dan kuskus suka makanan yang manis-manis?” tanya Billy.

“Ya,” jawab Parno singkat.

“Nah, sekarang, Pak Guru punya tugas untuk membuat Bu Rena percaya saya,” lanjut Billy.

“Maksudmu?” Parno kurang paham.

“Begini, Pak Guru. Waktu Bu Rena menerangkan tentang binatang-binatang termasuk kuskus, saya ditanya apa makanan kuskus. Saya jawab kalau kuskus suka makanan yang manis-manis. Contohnya seperti permen-permen, coklat-coklat, dan biskuit-biskuit yang seperti Oreo. Lalu teman-teman tertawa. Bu Rena marah. Saya dianggap mau jadi pelawak di kelas. Padahal, saya jawab betul toh, Pak Guru? Kata Bu Rena saya tidak belajar. Saya punya jawaban tidak sesuai dengan buku I.P.A. katanya. Saya dapat marah hari itu,” jelas Billy.

“Oh ya? Ha, ha, ha!” Parno tertawa.

“Ais! Tidak lucu, Pak Guru! Saya masih sakit hati. Pokoknya bantu beri tahu ke Bu Rena!” Billy berkata sambil mengeloyor pergi.

Parno terdiam dan berpikir dalam-dalam.

“Ya, Billy!” Parno berteriak kepada Billy,

Billy membalikkan badannya sambil tertawa melihat Parno. Dia lalu berlari menuju kelasnya.

“Siapa kiranya yang bisa menjelaskan hal-hal seperti ini di rapat guru tanpa membuat guru-guru kolot seperti Rena tersinggung?” pikir Parno.

Billy, satu dari sekian banyak anak yang pengalaman nyatanya dimiskinkan dan dibatasi oleh buku teks di sekolah. Sekolah yang katanya adalah tempat untuk menuntut ilmu dan mengembangkan wawasan malah mengeliminasi pengalaman nyata murid. Aneh. Parno tersenyum kecut.

Dalam hati Parno berkata, “Ha, ha, ha… Kurang asem si Billy. Aku ketahuan latah. Hmmm, omong-omong, benar juga dia. Kuskus dan tikus tanah suka makan yang manis-manis. Mungkin Bu Rena tersinggung karena dia juga suka makan yang manis-manis?”

Selesai.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s