Suka yang Manis-manis (3/4)

Sebelumnya, saat pelajaran Bahasa Indonesia di kelas Parno, Parno mengamati-amati Billy. Lima menit berlalu sejak kelas dimulai. Billy duduk sambil menggaruk-garuk pipi kanan dan lehernya. Semakin lama semakin keras. Sepertinya gatal sekali. Satu menit Parno memerhatikan Billy. Ternyata pipi dan lehernya penuh dengan luka seperti sedang terinfeksi bakteri atau jamur kulit. Cukup mengerikan.

Parno menghampiri Billy dan berbisik kepadanya, “Temui saya nanti sepulang sekolah. Di kantor guru, ya.”

Parno lanjut mengajar.

Parno adalah seorang guru dari Jawa. Prestasinya cukup mengagumkan. Dalam usianya yang relatif muda, dia sudah diangkat menjadi wakil kepala sekolah. Prestasi mengagumkan untuk anak kampung seperti Parno adalah bahan bakar untuk iri dan dengki yang kerap kali mencoba hinggap di hati guru-guru senior seumuran Rena di sekolah tempat Parno menjadi bekerja. Hal itulah yang membuat beberapa bulan ini menjadi bulan yang berat bagi Parno. Banyak berita buruk disebarkan tentang Parno terkait dengan diangkatnya dia menjadi wakil kepala sekolah beberapa waktu lalu.

Kabarnya bohongnya, Parno menyuap orang-orang di Kantor Dinas Pendidikan dan Pengajaran Daerah agar bisa naik pangkat. Ada lagi isu yang mengatakan bahwa Parno adalah keponakan Ketua Yayasan di sekolah swasta tempat dia mengajar sehingga gampang naik pangkat. Semua isu itu dihembuskan oleh guru-guru yang cemburu kepada Parno. Kenyataannya adalah Parno murni mengandalkan prestasinya dalam bekerja menjadi guru. Parno disukai oleh semua muridnya. Dia dihormati atas perilakunya yang sederhana dan santun kepada semua orang.

Jam pulang sekolah tiba. Billy datang dengan wajah berseri-seri masuk ke kantorku.

“Selamat siang, Pak. Pak Guru minta saya datang toh?” sapa Billy kepada Parno.

“Hai…! Ya, benar. Silakan! Silakan duduk!” kata Parno.

“Kamu ditunggu temanmu?” Parno bertanya.

“Ya, Pak Guru. Tapi tidak apa-apa,” jawab Billy.

“Nanti, pulang dari sekolah jangan langsung main, Billy. Pulang ke rumah dulu, lalu ganti baju. Nanti mainnya juga jangan sampai malam. Kamu harus istirahat supaya tidak mengantuk di kelas,” Parno membuka percakapan.

Parno duduk di kursi tamu. Dia tidak duduk di belakang mejanya. Itu adalah kebiasaan Parno ketika menerima tamu di kantornya siapapun orangnya. Parno berpikir bahwa jika dia menempatkan diri sejajar dengan lawan bicaranya, keterbukaan dalam berbicara bisa tercapai. Dia tidak mau menerima tamu layaknya seorang bos yang duduk di belakang mejanya lalu membiarkan tamunya berbicara dan mendengar dia di seberang meja kerjanya. Dia sangat menghargai orang lain. Parno adalah pendengar yang bijaksana.

Ketika mengajar di kelas, Parno tidak pernah duduk di belakang meja guru. Bagi dia, duduk di belakang meja guru ketika mengajar sama saja dengan menciptakan batas dengan muridnya. Dia selalu tampil berdiri. Menjadikan ruang kelas sebagai panggung pertunjukannya untuk selalu memantik imajinasi muridnya. Dia selalu ingin menginspirasi muridnya dengan berbagai hal.

Menurut Parno, guru harus selalu mampu membuat muridnya bermimpi tentang masa depan mereka. Mimpi dan inspirasi menurut Parno adalah peninggalan paling berharga dari seorang guru kepada muridnya daripada sekedar mengajarkan keterampilan akademis, rumus-rumus Bahasa Inggris, rumus-rumus Matematika, rumus-rumus Fisika, dan sebagainya. Memang semua itu penting, tetapi keterampilan hidup jauh lebih penting. Mengajarkan keterampilan hidup a la Parno adalah dengan cara mengundang muridnya untuk mau memahami jati diri mereka sendiri, lalu memahami orang lain di sekitarnya untuk berempati, memahami dan belajar menyayangi lingkungan alam tempat dia, dan memupuk sikap positif dalam bersikap terhadap sesama manusia di tengah beragamnya soal kehidupan di masyarakat majemuk dunia ini.

Karena gayanya yang humanis, Parno selalu mampu menarik perhatian muridnya. Kelasnya selalu hidup. Meskipun penting, tetapi dia tidak sibuk memikirkan apakah materi ajarnya tuntas atau tidak. Dia lebih sibuk memikirkan bagaimana membuat isi pelajaran yang dia ampu menjadi lebih berguna untuk kehidupan para muridnya. Singkatnya, bagi Parno, mengajar “siapa” jauh lebih penting direnungkan daripada mengajarkan “apa”.

Guru-guru kolot biasanya hanya duduk di belakang mejanya dan berceramah. Guru seperti itu biasanya tidak terlalu peduli dengan muridnya mendengarkan atau tidak, mengerti atau tidak, bahkan tertidur atau tidak. Guru seperti itu seperti sopir bus. Yang penting materi pelajaran sudah disampaikan, berarti murid sudah sampai di tujuan. Perkara mengerti atau tidak, itu risiko yang ditanggung penumpang busnya. Guru-guru yang seperti sopir bus itu biasanya juga punya kenek di kelas. Selalu ada sebagian kecil siswa yang selalu dipilihnya untuk membantu dia. Dia lebih mengajarkan cara menjilat daripada menumbuhkan jiwa kepemimpinan. Tidak jarang, guru seperti itu jika pena atau pensilnya jatuh saja harus meminta tolong siswa untuk mengambilkannya. Sebuah contoh penyalahgunaan wewenang sejak dini.

Dengan duduk santai, Parno mengambilkan Billy air minum mineral di cawan plastik.

Parno mulai menyampaikan maksudnya, “Saya ingin tahu apa yang terjadi dengan pipi dan lehermu. Saya lihat kamu sering menggaruk-garuknya,”

“Oh, ini Pak? Sudah lama begini, Pak Guru. Tidak tahu juga kenapa. Seringnya gatal,” jawab Billy.

“Sudah ke dokter?” tanya Parno.

“Ah, tidak usah Pak Guru. Nanti lama-lama hilang,” jawab Billy ringan.

“Jangan Billy. Ini, saya punya obatnya. Coba saja dulu. Ini untuk mengurangi rasa gatal supaya tidak kamu garuk terus,” kata Parno.

“Nanti kalau tidak sembuh, kamu ikut saya ke dokter,” sambung Parno.

“Wah, Pak Guru. Saya malu. Tapi benar boleh saya bawa obat ini, Pak Guru?” Billy tersipu malu tapi juga menunjukkan mata berbinar senang ketika bicara.

“Ya! Tentu! Silakan,” Parno meyakinkan Billy sambil menyodorkan obat oles kepada Billy.

“Terima kasih, Pak Guru!” Billy menjawab masih dengan rasa agak malu.

“Baiklah. Silakan kamu pulang sekarang. Ingat pesan saya,” Parno menutup pembicaraan.

“Ya, Pak Guru! Terima kasih, Pak Guru!” kata Billy sambil berdiri dan bergegas lari ke luar ruang.

“Billy. Oh, Billy…,” kata Parno dalam hati.

Sore itu Parno berjalan pulang menuju rumahnya. Guru yang lain sudah pulang sejak tadi. Di kota yang kecil itu, hampir semua orang melewati jalan yang sama setiap hari. Sepanjang perjalanan, Parno sudah membalas senyuman dari banyak orang yang dia kenal puluhan kali. Dia lalu melewati jalan setapak yang membelah hutan dan menghubungkan antara permukiman warga dengan sekolah.

Sore itu cerah sekali. Lampu-lampu yang menerangi jalan mulai menyala. Dipadu dengan suasana senja, warna kuning terang lampu-lampu jalan dan latar belakang langit yang merah keemasan menjadikan hutan seperti taman. Indah sekali.

Tiba-tiba, Parno bertemu Billy di jalan setapak itu. Billy masih mengenakan celana sekolahnya yang tadi siang. Bajunya sudah berganti dengan kaos olah raga milik kakaknya yang sudah di Sekolah Menengah Pertama.

“Hei! Ada apa kamu di sini?” tanya Parno.

“Mau tangkap binatang, Pak Guru!” jawab Billy.

“Hah? Binatang apa? Kasihanlah! Jangan tangkap binatang. Biarkan mereka hidup. Alam ini menjadi lebih indah dan baik kalau binatang-binatangnya dibiarkan hidup,” nasihat khas guru keluar dari mulut Parno.

“Terus kalau dapat binatang, mau dipelihara atau dijual?” sambung Parno.

“Dimakan…,” Billy menjawab dengan santai.

“Oh, ya? Serius?” tanya Parno sambil tersenyum menganggap bahwa jawaban Billy adalah sesuatu yang lucu.

Billy diam. Alisnya mengernyit. Dia bingung. Matanya memandangi wajah Parno yang sebentar lagi akan meledak dengan tawa. Parno memandang muka Billy. Billy semakin bingung. Dua-duanya melongo, sama-sama bengongnya. Lalu tiba-tiba ekspresi wajah Parno beralih menjadi datar.

Lalu Parno bertanya lagi dengan pelan, “Kamu serius?”

Wajah Billy sedikit berseri. Kemudian, Billy menjawab pertanyaan Parno dengan sebuah ajakan, “Kalau tidak percaya, silakan ikut saya nanti malam, Pak Guru.”

“Loh, loh… Tunggu. Tunggu! Ini kamu mau nangkap apa, Billy?” tanya Parno yang keheranannya muncul lagi.

“Kuskus… kalau ada. Kalau tidak ya tikus hutan, Pak,” jawab Billy.

Di tengah-tengah kepenasarannya, Parno mengangguk dan berkata singkat, “Baiklah.”

Kemudian, mereka berpisah. Parno berjalan menuju rumahnya, sedangkan Billy, … entah berjalan ke mana.

(Bersambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s