Suka yang Manis-manis (1/4)

Timika, Papua, 2008.

Pada suatu siang, sesosok guru perempuan sedang berada di depan murid-muridnya di dalam kelas. Rena adalah nama guru perempuan itu. Perawakannya lebar. Dia tidak terlalu tinggi. Wajahnya manis tetapi kalau marah, matanya melotot bulat. Cocok untuk menakut-nakuti anak kecil yang usil. Usianya sudah kepala empat. Rena berasal dari keluarga Jawa yang sudah sangat lama berpindah ke Papua. Suami Rena adalah seorang pria kaya dari Serui. Rena lahir di Papua dan hingga sekarang tinggal di pulau yang sangat kaya akan hasil alam itu.

Saat itu pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (I.P.A.) di kelas Rena. Seperti biasa, kelas Rena sangat tegang karena Rena terkenal mudah marah dan suka mempermalukan murid yang tidak bisa menjawab pertanyaannya di kelas.

Di kelas 7A, Rena menjelaskan panjang lebar tentang bentuk mulut binatang, makanannya, habitatnya, dan spesiesnya. Siswanya duduk menghadap ke depan dengan tangannya terlipat menyilang di atas meja. Beberapa anak terlihat menahan rasa kantuknya. Suasana kelas Rena terlihat seperti di dalam bus. Guru seolah-olah adalah sopir bus dan siswa adalah para penumpangnya. Ketika semua materi pelajaran sudah disampaikan oleh guru, maka itulah saatnya para penumpang bus turun. Sopir tidak mau tahu apakah pada saat perjalanan penumpangnya ada yang tidur atau tidak. Dia tidak mau tahu apakah penumpangnya menikmati perjalanan mereka atau sebenarnya muntah-muntah karena pusing. Yang penting menurut sopir adalah bahwa materi pelajarannya sudah sampai tujuan: DIBACAKAN di depan siswa. Tentang kepahaman siswa, itu kurang penting. Pokoknya yang penting mereka harus bisa saat diberi pertanyaan-pertanyaan dalam ulangan harian atau tes sumatif nanti.

Sebagai guru senior, banyak guru di sekolah Rena menganggap dia adalah guru hebat. Rena selalu berceramah menjelaskan pelajaran yang diajarkannya kepada para murid dalam waktu yang lama. Muridnya selalu tertib mendengar tanpa melawan. Jika ketahuan tidak mendengar atau sedang mengerjakan sesuatu, meskipun hanya menggaruk-garuk kaki yang digigit nyamuk, muridnya bisa kena bentak.

Rena selalu menyuruh muridnya mencatat persis seperti yang ditulis ketua kelas di papan tulis seperti yang sudah dia perintahkan. Dia sudah hapal isi buku-buku I.P.A. yang sudah puluhan tahun dia bacakan kepada muridnya. Oleh sebab itu, dia tidak merasa muridnya perlu membacanya saat pelajaran. Mereka hanya perlu mendengarkan cerita dan penjelasan Rena. Selain itu, Rena dianggap hebat juga karena sangat ditakuti muridnya. Rena terkenal sangat sering mengancam siswanya dengan hukuman fisik seperti menyuruh siswa lari keliling lapangan upacara, menjewer, mencubit, atau berbaris di lapangan dan tidak boleh mengikuti pelajaran.

Sering kali jika ada murid yang agak iseng atau bandel, guru-guru selalu berkata, “Nanti saya beritahukan ke Ibu Rena, loh!”

Biasanya setelah mendengar nama itu, murid langsung diam. Kalau benar-benar Rena tahu, mereka bisa dijewer. Meskipun tidak menyakitkan, tetapi itu cukup memalukan karena pasti dilakukan di depan siswa-siswa lainnya.

Seperti biasa, setelah berceramah panjang, Rena bertanya tentang apa yang sudah dia ceritakan kepada muridnya.

“Apakah makanan burung pipit?” tanya Rena kepada semua muridnya di kelas.

Najwa, seorang murid perempuan yang pemberani yang selalu aktif menjawab pertanyaan guru, mengangkat tangannya. Rena mempersilakan Najwa untuk menjawab.

“Biji-bijian termasuk padi dan sorgum,” jawab Najwa.

“Benar!” kata Rena dengan senyum lebar.

Dalam hati Rena dia berpikir bahwa ceramahnya tidak sia-sia. Tenaganya terasa dihargai.

“Najwa sudah sering menjawab pertanyaan dari saya. Sekarang giliran murid yang lainnya,” sambung Rena.

Kemudian dia memberikan pertanyaan lainnya.

“Apakah makanan tikus hutan dan kuskus?” tanya Rena. Anak-anak di Timika, Papua, bisa jadi lebih sering melihat kuskus daripada kambing. Kuskus adalah mamalia berkantung yang asli Papua.

Karena Najwa sudah tidak boleh menjawab, maka kelas menjadi hening. Tidak ada siswa yang mengangkat tangannya untuk menjawab. Rena memandangi satu-satu wajah muridnya. Matanya bagai mata elang yang tajam mencari mangsa. Lalu perhatiannya terpusat pada seorang siswa, Billy.

(Bersambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s